Beberapa tempo ke belakang, saya mencoba memaknai sebuah film berjudul Yes Man yang dibintangi oleh Jim Carrey. Saya terperanjat sekaligus takjub terhadap apa yang bisa saya dapatkan dari (mungkin hanya sekedar) judul film tersebut dan korelasinya dengan apa yang saya rasakan.
Saya tahu betul bagaimana rasanya mengatakan 'tidak' terhadap ajakan atau undangan dari orang lain. Terkadang begitu luwesnya bisa saya katakan, namun di lain kali, saya pun harus membanting pikiran saya dengan keras. Terlebih oleh sebuah ajakan yang terlihat bonafit dan penuh prospek, saya pun sulit untuk berkata 'enggan' untuk hal itu.
Pada beberapa belahan bumi ini, saya merasakan betapa kuatnya Yes Syndrome ini membabi buta. Imbasnya pun tak sedangkal apa yang kita prediksi bahkan jauh lebih fenomenal. Hal ini disebut konformitas.
Banyak hal yang (seringkali) kita terima begitu saja tanpa berpikir mengenai alasan atau motif dari hal tersebut. Kita terjebak dalam sebuah problem yang (seyogyanya) kita sadari dan pahami. Kita hanya melakukan confirm terhadap hal yang belum tentu kebenarannya. Kita biasanya hanya menyadari bahwa itu adalah realistis dan tidak muluk-muluk bahkan lebih kacaunya lagi adalah sebuah kebanggaan.
Memang, tidak semua hal harus dijabarkan dalam bentuk alasan yang kokoh atau penjabaran secara eksplisit. Tetapi, yang perlu kita sadari adalah kita selalu berkata 'iya' terhadap apa yang di balik semua ini dapat menjadi bom waktu. Contohnya, beberapa orang percaya bahwa anggota dewan dalam banyak kesempatan hanya bisa berkata 'setuju' terhadap segala pendapat atau buih pemikiran dari anggota yang lain tanpa mempertimbangkan baik buruknya.
Hal ini pun sering kita jumpai pada keseharian kita. Kita biasanya menerima sebuah rumus matematika atau fisika dengan kehampaan. Artinya, kita tidak tahu dari mana asalnya dan kita hanya bisa menjawab ' Dari sananya! '. Fenomena ini tumbuh mengakar dan merusak sistem yang ada sejak awal yang kemudian sirna begitu saja. Yang lebih memiriskan lagi adalah kita pun berkata 'iya' terhadap konformitas karena buktinya kita mati kutu terhadap stigma itu.
Saya (dengan penuh harap) yakin ini adalah cureable syndrome yang bisa kita hadapi. Walaupun di era globalisasi ini, saya percaya kita memang harus selektif dalam menentukan pilihan dan jawabannya.
Terkadang kita harus bilang 'iya' terhadap 'tidak' dan bilang 'tidak' terhadap 'iya' bukan?
0 Respon:
Post a Comment
Merasa dipertanyakan?