Beberapa waktu ke belakang, saya cukup terhentakkan oleh sebuah fakta yang mencengangkan saya. Adalah seorang gitaris-vokalis idola saya yang menyebabkan saya ternganga miris saat mengetaui sesuatu.
Hal yang begitu mendasar bagi seorang musisi (menurut saya) adalah identitas dan kebebasan dalam bermusik tanpa terpengaruh faktor lain bahkan hal-hal lain (yang saya yakini) kurang fundamental. Seperti gaya bermusik dan originalitas dari seorang musisi, hal itu tidak bisa terbeli oleh materi semata. Karakter dan keunikkan (seharusnya) bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penikmat musik (yang harusnya juga) terpelajar dan kritis dalam mengonsumsi musik.
Mungkin hal ini sudah pernah saya bahas sebelumnya dalam artikel tempat pembuangan sampah musik. Tetapi, saya benar-benar terbangunkan kembali oleh realita bahwa seseorang yang saya idolakan pun ikut terhunus oleh pasar musik yang memang lebih terkesan katastropik bagi pemusik. Ironis sekali seseorang dengan kapabilitas bermusik yang memukau harus membanting tulang dengan 'menjual' dirinya pada khalayak yang kurang apresiatif pada esensi dasar musik.
Memang, saya cukup menyadari sulitnya mencari materi untuk kehidupan saat ini karena memang musik (sayangnya) masih kurang prospektif bagi beberapa kalangan. Padahal, sifatnya yang universal seharusnya bisa menjadi modal yang ciamik bagi pengembangan musik khususnya di Indonesia. Sarana dan program-program pun kurang mengakomodasi kebutuhan para pemusik dan pengonsomsinya juga.
Pada dasarnya, musik adalah perwujudan dari ekpresi yang jujur dan tidak terdistorsi oleh faktor yang kurang penting. Sampai kapan kita harus terjerembab dalam kedigdayaan dalam kemunafikan yang begitu terejawantahkan pada realita ini? Saya yakin musik adalah salah satu solusi dari berbagai krisis. Dan hasrat bermusik tak akan terbendung oleh berbagai intervensi. Seharusnya.
knapa ya dho, urang ga menikmati musik lagi seperti kala smp dulu,
ReplyDeleteany advice??
@yorga
ReplyDeletemaneh harus tau arti dari musik bagi maneh apa, karena tiap orang beda. teangan we, meureun coba ngagitar deui we. hha.